BAB I,II,III,IV ,V dan VI-converted

  • Uploaded by: Zikhan Bojic
  • Size: 1.4 MB
  • Type: PDF
  • Words: 4,674
  • Pages: 35
Report this file Bookmark

* The preview only shows a few pages of manuals at random. You can get the complete content by filling out the form below.

The preview is currently being created... Please pause for a moment!

Description

BAB I PENDAHULUAN

1.

Gambaran Umum Proyek Project Owner Kontraktor Lokasi Status Konsep rumah Ukuran lahan Luas Bangunan Konstruksi Fondasi Atap Wilayah Gempa Metode Analisis Standard Code

2.

: Private House : Mr. Herson Mada : Venustas Indonesia : Makassar, Sulawesi Selatan : Bangun Baru : Modern Tropis : 9 x 12 m : 150 m2 : Struktur Beton Bertulang : Footplat / Telapak : Baja Ringan : Zona 2 : Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK) : SNI, ASCE, ACI, AISC

Latar Belakang Pembangunan perumahan beserta sarana dan prasarananya perlu mendapatkan prioritas mengingat tempat tinggal merupakan salah satu kebutuhan dasar (basic needs). Adanya keterbatasan lahan dan kebutuhan lahan yang semakin meningkat sejalan dengan pertumbuhan penduduk berdampak pada semakin banyaknya developer yang menawarkan desain rumah dua lantai dengan mengedepankan kenyamanan dan harga yang terjangkau sebagai faktor penarik minat konsumen. Dalam merencanakan pembangunan itu sendiri sangat diperlukan pendekatanpendekatan atau metode yang relevan guna menjawab setiap permasalahan yang ditemukan dilapangan. Pemilihan metode pelaksanaan pembangunan proyek harus terjadwalkan dengan baik. Penjadwalan proyek yang baik dan tepat sangat mempengaruhi keberhasilan suatu pelaksanaan pembangunan proyek. Efektifitas dan efisiensi dalam pelaksanaan proyek dipengaruhi oleh faktor perencanaan dan pengendalian. Perencanaan terdiri dari memilih tujuan serta menetapkan program dan prosedur. Planning tidak hanya sekedar penjadwalan tetapi juga termasuk semua sumber daya lainnya yaitu dana, sumber daya manusia, material, peralatan, dan lain lain untuk mencapai tujuan proyek. Tujuan perencanaan adalah mengurangi resiko, 1

menghindari krisis manajemen, dan meningkatkan efisiensi serta memperjelas tujuan. Dalam suatu proyek, perencanaan biasanya dilakukan untuk memastikan bahwa suatu pekerjaan dilakukan sesuai dengan kualitas yang diinginkan, dalam jangka waktu yang diberikan, dan sesuai dengan target biaya. Penyimpangan terhadap rencana bagaimanapun pasti terjadi dan dalam industri konstruksi. Penyimpangan ini terjadi disebabkan karena faktor sifat alami dari pekerjaan konstruksi itu sendiri dan ketidakpastian yang berhubungan dengan pekerjaan tersebut. Perencanaan dan pengendalian merupakan alat bagi manajemen untuk memudahkan pencapaian tujuan. Perencanaan d a n pengendalian merupakan dua faktor yang sangat penting bagi keberhasilan suatu perusahaan yang bersifat saling menunjang d a n tidak dapat berjalan sendiri - sendiri. Perencanaan sebuah proyek tidak lepas dari perencanaan anggaran biaya. Anggaran biaya proyek menjadi dasar penyusunan anggaran - anggaran lainnya, maka anggaran biaya proyek terdiri dari anggaran biaya bahan baku yang mencakup kebutuhan dan penggunaan bahan baku langsung, anggaran tenaga kerja seperti halnya upah yang akan dibayarkan pada tenaga kerja baik upah harian atau mingguan, sedangkan anggaran overhead mencakup bahan baku langsung, pekerjaan tidak langsung serta biaya Iain-lain yang langsung dibebankan. Apabila dalam pelaksanaan pembangunan proyek terdapat penyimpangan antara biaya yang dikeluarkan dengan anggaran biaya proyek, maka pihak manajemen dapat mencari sebab terjadinya penyimpangan dan mengarahkannya kembali sesuai dengan anggaran semula agar tingkat pemborosan dapat ditekan serendah mungkin. Di Inggris, satu penelitian oleh the Building Cost Information Service menemukan bahwa 47% proyek melebihi biaya yang direncanakan dan 71% proyek melebihi waktu yang direncanakan. Di New Zealand, ditemukan bahwa keterlambatan waktu pada penyelesaian kontrak sebesar rata-rata 20% . Laufer dan rekan sejawatnya meneliti definisi dan alokasi dari pekerjaan perencanaan. Mereka menemukan bahwa tidak ada terpakai sistem yang jelas, dan perencanaan dilakukan dalam berbagai cara. Dari data tersebut maka penulis ingin mengetahui bagaimana sistem perencanaan dan pengendalian pada proyek pembangunan private house Mr. Herson Mada untuk mengetahui penjadwalan dan anggaran biaya proyek. 3.

Identifikasi Permasalahan a.

Mengacu pada PMBOK (Project Management Body of Knowledge ) 2004, perencanaan di perusahaan konsultansi konstruksi tidak dilakukan dengan semestinya.

b.

Terdapat proyek-proyek yang mempunyai kinerja waktu yang buruk karena pelaksanaan proyek yang di luar perencanaan. Sehingga waktu penyelesaian proyek ikut terlambat. 2

4.

Identifikasi Stakeholder Proyek Stakeholder adalah pihak individu, kelompok, ataupun komunitas tertentu yang mempunyai kepentingan dalam suatu perusahaan. Stakeholder mempunyai potensi untuk bisa memengaruhi ataupun dipengaruhi oleh bisnis yang ada didalamnya. stakeholder dalam proyek pembangunan rumah Mr. Herson Mada terdiri dari :

a.

Pemilik Proyek : Seseorang atau perusahaan yang mempunyai dana, memberikan tugas kepada seseorang atau perusahaan yang memiliki keahlian dan pengalaman dalam pelaksanaan pekerjaan agar hasil proyek sesuai sasaran dan tujuan yang ditetapkan.

b.

Kontraktor: Perusahaan yang dipilih dan disetujui untuk melakukan pekerjaan konstruksi yang direncanakan sesuai dengan keinginan pemilik proyek dan bertanggung jawab penuh terhadap pembangunan fisik proyek. Dilakukan dengan cara lelang/tender atau penunjukkan dengan negosiasi penawaran harga.

c.

Pemasok (suplier) : Pihak yang ditunjuk oleh kontraktor untuk memasok material yang memiliki kualitas yang diinginkan oleh pemilik

d.

Mandor : Pihak yang mengepalai beberapa orang atau kelompok dan bertugas mengawasi pekerjaan mereka

e.

Tukang : Pekerja yang mempunyai ketrampilan dalam bidang membangun rumah, membangun ruko dan bangunan yang lain.

3

BAB II RENCANA JADWAL PROYEK

1.

WBS (Work Breakdown Structure) Work breakdown structure (WBS) adalah suatu metode pengorganisasian proyek menjadi struktur pelaporan hierarakis. WBS digunakan untuk melakukan Breakdown atau memecahkan tiap proses pekerjaan menjadi lebih detail.hal ini dimaksudkan agar proses perencanaan proyek memiliki tingkat yang lebih baik. Model WBS memberikan beberapa keuntungan, antara lain: a. Memberikan daftar pekerjaan yang harus diselesaikan. b. Memberikan dasar untuk mengestimasi, mengalokasikan sumber daya, menyusun jadwal, dan menghitung biaya. c. Mendorong untuk mempertimbangkan secara lebih serius sebelum membangun suatu proyek. Berikut WBS pada proyek Proyek Private House Makassar :

4

2.

Daftar Aktifitas, Milestone, dan Estimasi Durasi

a.

Daftar aktivitas adalah tabulasi aktivitas yg akan dimasukkan ke jadwal proyek. Daftar ini hrs mencakup: − Nama aktivitas − Nomor atau identitas aktivitas − Deskripsi singkat tentang aktivitas Atribut aktivitas menyediakan informasi yg lbh byk ttg setiap aktivitas, misalnya ttg aktivitas sebelumnya, aktivitas sesudahnya, relasi logis, kebutuhan sumberdaya, hambatan-hambatan, tanggal final, dan asumsi-asumsi terkait aktivitas.

b.

Milestone Milestone adalah kejadian penting yang biasanya tidak mempunyai durasi. Seringkali dibutuhkan beberapa aktivitas dan banyak pekerjaan untuk menyelesaikan sebuah milestone. Milestone merupakan alat yang sangat berguna utk membuat tujuan jadwal dan memantau perkembangan (progress). Misalnya Penyelesaian penandatanganan dokumen-dokumen penting oleh customer, dan Penyelesaian produk-produk spesifik

c.

Estimasi Durasi Setelah aktivitas didefinisikan dan dibuat urutan pekerjaannya, proses berikutnya pada manajemen waktu proyek adalah membuat estimasi durasi aktivitas. Estimasi durasi aktivitas sangat penting untuk mengetahui berapa lama waktu aktual (riil) yang sebenarnya dibutuhkan oleh proyek. Berdasarkan urutan aktivitas dan saling keterkaitan antar aktivitas, dimungkinkan terdapat beberapa aktivitas yang dapat berjalan simultan. Sehingga umur suatu proyek tidak serta merta merupakan total waktu semua aktivitas akan tetapi hasil dari manajemen waktu atau durasi aktivitas yang optimal. Batasan-batasan, asumsi-asumsi aktivitas dan ketersediaan sumberdaya proyek perlu dipertimbangkan untuk memperkirakan durasi aktivitas. Pengalaman manajer proyek atau pengalaman dari aktivitas yang serupa pada proyek lain merupakan salah satu masukan penting untuk memperkirakan durasi aktivitas.

Gambar 2.1 WBS

Berikut daftar aktifitas, milestone, dan estimasi durasi pada proyek private house Makassar :

5

Tabel 2.1 Tabel Aktivitas dan Estimasi durasi kerja

6

3.

CPM (Critical Path Method) Ada beberapa metode penjadwalan proyek Yang digunakan untuk mengelola waktu 7

dan sumber daya proyek. Masing masing metode mempunyai kelebihan dan kekurangan sendiri. Pertimbangan penggunaan Methode didasarkan atas kebutuhan dan hasil yang ingin dicapai terhadap kinerja penjadwalan. Kinerja waktu dalam penjadwalan akan berdampak terhadap biaya proyek yang akan dikeluarkan, sehingga akan mempengaruhi kinerja proyek secara keseluruhan.Teknik penjadwalan yang paling banyak digunakan adalah metode jalur kritis (CPM) untuk penjadwalan, sering disebut sebagai penjadwalan jalur kritis. Metode ini menghitung waktu penyelesaian minimum untuk sebuah proyek bersama dengan permulaan yang memungkinkan dan waktu selesai untuk kegiatan proyek. Jalur kritis itu sendiri merupakan set atau urutan kegiatan pendahulunya / pengganti yang akan mengambil waktu terlama dalam pelaksanaan proyek. Durasi jalur kritis adalah jumlah waktu kegiatan 'sepanjang jalan. Jadi, jalur kritis dapat didefinisikan sebagai jalan terpanjang mungkin melalui "jaringan" dari kegiatan proyek. Durasi jalur kritis merupakan waktu minimum yang diperlukan untuk menyelesaikan sebuah proyek. Setiap penundaan di sepanjang jalur kritis akan berarti bahwa waktu tambahan akan diperlukan untuk menyelesaikan proyek. CPM memasukkan konsep biaya dalam proses perencanaan dan pengendalian. Dalam menentukan perkiraan waktu penyelesaian akan dikenal istilah jalur/lintasan kritis. Critical Path Method (CPM) berdasar PMBOK adalah menggunakan jumlah waktu luang (jumlah float) pada berbagai logik network dalam schedule proyek, untuk menentukan minimum total durasi proyek. Beberapa hal yang perlu diperhatikan berkaitan denganjalur kritis ini : a.

Tertundanya pekerjaan di jalur kritis akan menundapenyelesaian jalurproyek i ni secara keseluruhan b. Penyelesaian proyek secara keseluruhan dapat dipercepat dengan mempercepat penyelesaian pekerajaan – pekerjaan di jalur kritis. c. Slack pekerjaan jalur kritis sama dengan 0 (nol). Hal inimemungkinkan relokasi sumber daya dari pekerjaan non kritis ke pekerj aan kritis Langkah-langkah menentukan jalur kritis a.

Susun diagram jaringan yang baik (untuk memudahkan gunakan metode ADM) lengkap dengan durasi waktunya.

b.

Identifikasi seluruh jalur yang mungkin, dimana jalur tersebut menghubungkan awal proyek hingga akhir proyek.

c.

Hitung waktu total masing-masing jalur. Jalur dengan total waktu paling lama disebut jalur kritis. 8

Istilah Dalam CPM − E (Earliest event occurence time ) : Saat tercepat terjadinya suatu peristiwa. − L (Latest event occurence time): Saat paling lambat yang masih diperbolehkan bagi suatu peristiwa terjadi. − ES (Earliest activity start time) : Waktu Mulai paling awal suatu kegiatan. Bila waktu mulai dinyatakan dalam jam, maka waktu ini adalah jam paling awal kegiatan dimulai. − EF (Earliest activity finish time) : Waktu Selesai paling awal suatu kegiatan. EF suatu kegiatan terdahulu = ES kegiatan berikutnya. − LS (Latest activity start time): Waktu paling lambat kegiatan boleh dimulai tanpa memperlambat proyek Berikut merupakan CPM ( Critical Path Method) dan jalur lintas kritis pada Proyek Private House Makassar.

Gambar 2.3 CPM ( Critical Path Method )

Gambar 2.4 CPM Jalur Lintasan Kritis

4.

Network Diagram (Metode PDM) Metode pembuatan diagram jaringan kerja proyek menggunakan simbol kotak 9

sebagai representasi antivitas proyek. Metode ini lebih memperlihatkan hubungan waktu. Pada PDM, aktivitas dinytatakan dalam bentuk kotak dan hubungan antar aktivitas dinyatakan dengan anak panah. Metode ini lebih populer dibandingkan dengan metode ADM dan lebih jelas dalam menggambarkan bentuk hubungan antar aktivitas. Metode PDM juga lebih banyak diadopsi pada tool-tool manajemen proyek. Berikut merupakan Tabel aktivitas dan Predecessors pekerjaan dan pembuatan jaringan kerja dengan mengunakan Metode PDM Tabel 2.1 Tabel Aktivitas Kerja

Gambar 2.5 Menggunakan Metode PDM

5.

Gant Chart Gant Chart atau Bar chart menggambarkan waktu yang dijadwalkan untuk setiap kegiatan. Kegiatan tercantum dalam sumbu vertikal dan waktu ditampilkan 10

sepanjang sumbu horisontal. Diagram ini sangat berguna untuk kegiatan di lapangan, namun sangat kurang untuk kepentingan perencanaan. Gantt Chart merupakan salah satu alat yang sangat bermanfaat dalam merencanakan penjadwalan dan memantau kegiatan pada suatu proyek, mengkomunikasikan kegiatan-kegiatan yang harus dilaksanakan dan juga status pelaksanaannya. Dalam Gantt Chart juga dapat dilihat urutan kegiatan ataupun tugas yang harus dilakukan berdasarkan prioritas waktu yang ditentukan. Berikut merupakan penyusunan jadwal proyek (Gent Chart) diperlukan untuk memonitoring suatu pekerjaan dari tahap awal sampai akhir pekerjaan.

11

Berikut merupakan penyusunan jadwal proyek (Gent Chart) diperlukan untuk memonitoring suatu pekerjaan dari tahap awal sampai akhir pekerjaan. Tabel 2.2 Gent Chart

11

BAB III STRUKTUR ORGANISASI PROYEK

1.

Bagan Organisasi Proyek Organisasi adalah tempat orang-orang tertentu yang saling bekerjasama untuk mencapai sesuatu atau suatu tujuan tertentu. Struktur organisasi adalah sebuah sarana yang berguna untuk membantu dalam proses pencapaian suatu tujuan dalam proyek. Susunan ini bekerja dengan cara mengatur dan mengorganisasi semua sumber daya yang ada, material atau bahan-bahan, tenaga kerja dan peralatan serta modal. Dan pastinya menerapkan sebuah sistem manajemen yang efektif dan efisien serta disesuaikan dengan kebutuhan pada proyek tersebut. Dengan adanya susunan yang telah ada atau dibuat ini, dapat mempermudah untuk mengatur sebuah pembagian tugas serta wewenang pada setiap orang atau bagian. Dalam pembagiannya harus jelas, agar setiap orang memiliki tugas atau pekerjaan dengan tanggung jawab masing-masing. Dan pastinya memiliki keterkaitan satu dengan lainnya pada setiap bagian. Selain bertujuan untuk membantu mencapai sebuah tujuan dengan maksimal. Struktur organisasi ini juga memiliki kegunaan atau tujuan lainnya. Seperti berguna untuk menyusun mekanisme dalam pengendalian kerja proyek, mengelompokkan penanggung jawab pada setiap kegiatan, menentukan wewenang dan tanggung jawab untuk semua pekerja proyek dam mengidentifikasi pembagian sebuah kegiatan. Cara Mempertahankan Dukungan dan Antusias dari Personil Proyek 1.

Manajer proyek harus mampu memotivasi pekerja: menjamin komunikasi horizontal dan vertikal; memaksimumkan koordinasi antar disiplin; menyelesaikan masalah interpersonal dan konflik; team building, team discipline, dan prestasi akan meningkat;

2.

Harus memahami ‘needs’ dari pekerja: Psychological needs: makanan; rumah; istirahat/piknik; dan latihan. Safety and security needs: keamanan dari bahaya; ancaman.

Partnering Elemen penting partnering: a.

Long term commitment: manfaat tidak diperoleh cepat; bertahap lesson learned;semua pihak harus sunguh-sungguh;

b.

Trust (kepercayaan) Menghindari permusuhan; sinisme; dapat membangun teamwork;pemahaman 12

c.

akan tujuan dan risiko dapat meningkatkan trust; dan membangun siniergi; partnering memperkuat pelaku; mempermudah pengambilan keputusan dan pemecahan masalah; Shared VisionVisi dan misi harus disepakati ; harus terbuka; pertempuran gagasan; tujuan perlu dirumuskan bersama; Berikut merupakan bagan organisasi proyek private house Makassar

Gambar 3.1 Bagan Organisasi Proyek

2.

Data Personil

Keuntungan adanya data personil adalah pekerjaan lebih terorganisir dengan baik, karena masing-masing personil mempunyai tanggung jawab masing-masing sesuai jabatan dan fungsinya, sehingga tujuan organisasi atau perusahaan dapat tercapai sesuai dengan waktu yang ditentukan dalam perencanaan. Jadi personil merupakan bagian dari manajemen perusahaan, manajemen ini berfungsi untuk merencanakan, mengatur, melaksanakan dan mengendalikan sehingga masing-masing personil memahami dan mampu bekerja sesuai dengan fungsinya, dan dalam pelaksanaan pekerjaan menjadi lebih efektif dan efisien. Berikut merupakan bagan urganisasi proyek private house Makassar

Gambar 3.1 Tabel data personil proyek 13

3.

Tugas dan Tanggung Jawab 1. Tugas pemilik proyek atau owner adalah: a. Menyediakan biaya perencanaan dan pelaksanaan pekerjaan proyek. b. Mengadakan kegiatan administrasi. c. Memberikan tugas kepada kontraktor atau melaksanakan pekerjaan proyek. d. Meminta pertanggung jawaban kepada konsultan pengawas atau manajemen konstruksi (MK). e. Menerima proyek yang sudah selesai dikerjakan oleh kontraktor. Wewenang yang dimiliki pemilik proyek atau owner adalah: a. Membuat surat perintah kerja (SPK) b. Mengesahkan atau menolak perubahan pekerjaan yang telah direncanakan. c. Meminta pertanggungjawaban kepada para pelaksana proyek atas hasil pekerjaan konstruksi. d. Memutuskan hubungan kerja dengan pihak pelaksana proyek yang tidak dapat melaksanakan pekerjaanya sesuai dengan isi surat perjanjian kontrak. 2. Tugas Kontraktor adalah: a. Mempersiapkan fasilitas dan sarana demi kelancaran pekerjaan. b. Mempersiapkan bahan-bahan bangunan yang bermutu baik dan memenuhi persyaratan seperti yang tercantum dalam bestek. c. Melaksanakan semua pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya sesuia dengan Rencana Kerja dan Syarat-syarat. d. Menyelesaikan dan menyerahkan pekerjaan tepat pada waktunya sesuai dengan surat perjanjian kontrak. e. Mengadakan pemeliharaan selama proyek tersebut masih dalam tanggung jawab pelaksana. f. Menyediakan tenaga kerja yang berpengalaman serta peralatan yang diperlukan pada saat pelaksana pekerjaan. g. Bertanggung jawab terhadap fisik bangunan selama masa pemeliharaan

3. Tugas Mandor adalah : a. Menghitung kebutuhan tenaga kerja b. Melakukan pembagian tugas c. Membuat jadwal juga rencana kerja d. Mengawasi kegiatan tukang bangunan e. Menerapkan keselamatan kerja f. Memberikan instruksi g. Malaporkan hasil pekerjaan 14

h. Menagih bayaran i. Persetujuan penggunaan bahan bangunan j. Menentukan kebutuhan peralatan pembangunan 4. Tugas Suplier : a. Sebagai pihak yang memastikan tersedianya bahan baku atau bahan mentah bagi pihak “individu atau perusahaan” yang membutuhkannya. b. Memastikan bahan baku yang dipasok masih dalam keadaan baik saat diterima oleh pihak pembeli. c. Mengatur proses penyimpanan bahan baku sebelum dikirim ke perusahaan yang membutuhkannya. d. Mengatur pengiriman bahan baku dengan tepat waktu kepada pihak yang membutuhkannya. 5. Tugas Tukang bangunan : a. Melakukan pengawasan terhadap kualitas pekerjaan di lapangan agar sesuai dengan gambar kerja yang berlaku dan spesifikasi bahan yang disyaratkan. b. Mengajukan kebutuhan material dan alat yang dibutuhkan di lapangan. c. Ikut bertanggung jawab dalam pengawasan pemakaian bahan. d. Ikut bertanggung jawab dalam perhitungan volume barang yang datang ke lapangan e. Melakukan opname upah prestasi pekerjaan f. Ikut bertanggung jawab dalam menjaga target upah pekerja. g. Melakukan pengawasan terhadap target pekerjaan agar proyek berjalan sesuai dengan schedule waktu yang ditetapkan. h. Membantu pekerja di lapangan untuk mendapatkan penjelasan dan solusi mengenai hal-hal teknis pekerjaan. 6. Tugas Kuli bangunan ; a. Mengerjakan pekerjaan sesuai dengan spesialisasi atau keahliannya b. Menerapkan kepatuhan keamanan, keselamatan dan kesehatan kerja di lokasi proyek.

BAB IV RENCANA BIAYA PROYEK 15

Rencana Anggaran Biaya (RAB) adalah suatu rencana anggaran biaya yang akan dikeluarkan pada suatu proyek dimana hal itu didasarkan pada gambar kerja. Dalam aplikasinya di lapangan Rencana Anggaran Biaya merupakan alat untuk mengendalikan jumlah biaya penyelesaian pekerjaan secara berurutan sesuai dengan yang telah direncanakan.Rencana Anggaran Biaya ini berada pada proposal biaya di luar proposal teknis yang merupakan kelengkapan administrasi sebuah perusahaan jasa konstruk.Selain itu juga RAB merupakan perkiraan yang dibuat sebelum pelaksanaan suatu proyek fisik dimulai. Tujuan pembuatan RAB adalah : 1. Agar biaya pembangunan yang dibutuhkan dapat diketahui sebelumnya 2. Untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya kemacetan dalam proses pembangunan. 3. Untuk mencegah terjadinya pemborosan dalam penggunaan sumber daya Cost Estimate (estimasi biaya) atau dalam istilah populer yang disebut dengan Rencana Anggaran Biaya (RAB) sebelumnya harus dipahami sebagai Rencana Anggaran Biaya yang diserahkan kontraktor sebagai harga penawaran dan diserahkan pada waktu mengikuti pelelangan Dalam menyusun Rencana Anggaran Biaya (RAB) secara sederhana dapat dipilah menjadi dua langkah, yakni tahap persiapan dan tahap penyusunan RAB itu sendiri. Hal tersebut dikarenakan bahwa dalam penyusunan RAB ada dua faktor utama yang senantiasa dipadukan yakni faktor pengalaman dan faktor analisis biaya konstruksi (meliputi upah, tenaga kerja dan bahan) secara ringkas proses penyusunan anggaran biaya jembatan atau gedung dapat dilihat di bawah ini :

Gambar. Tahap Penyusunan RAB Rencana Anggaran Biaya pelaksanaan proyek dibuat berdasarkan rencana anggaran penawaran yang digunakan sebagai patokan biaya penyelesaian proyek yang harus diikuti oleh setiap unit yang dalam kendali seorang manajer proyek. Sebagai penetapan harga 16

dalam suatu pelelangan ada 2 estimasi, yaitu : 1. Estimasi perencanaan (Engineer’s Estimate atau EE) 2. Estimasi pemilik (Owner’s Estimate atau OE)

Susunan RAB disampaikan berupa suatu dokumen yang isinya secara urut sbb: 1)

Rekapitulasi

2)

Rincian RAB (Bill of Quantity/BOQ)

3)

Analisa Harga Satuan Pekerjaan (unit Cost)

4)

Daftar Harga Satuan Bahan dan Upah

Tahapan Penyusunan Biaya Proyek Pada umumnya biaya proyek terdiri dari biaya tenaga kerja dan biaya bahan atau peralatan, adapun tahapan penyusunan biaya adalah sebagai berikut : 1. Perhitungan Volume Pekerjaan Tahap perhitungan volume ini dapat dikerjakan berdasarkan dari gambar-gambar denah maupun detail, sehingga apabila gambar-gambar tersebut terdapat ketidak jelasan pada ukuran maupun gambar dan mempengaruhi perhitungan volume pekerjaan. Rumus perhitungan volume pekerjaan : •

Volume untuk luasan item pekerjaan (m2) = panjang x lebar



Volume untuk kubikasi item pekerjaan (m3) = panjang x lebar x tinggi



Volume panjang item pekerjaan (m) = panjang / tinggi



Volume untuk borongan (ls, unit, buah) = sesuai kesepakatan

2. Analisis Harga Satuan Pekerjaan Harga satuan upah dan bahan di setiap daerah berbeda sehingga dalam menghitung dan menyusun anggaran biaya suatu proyek, harus berpedoman pada Harga Satuan Pekerjaan. Untuk membuat analisa harga pekerjaan bisa dilakukan dengan : •

Analisa BOW 17



Cara SNI



Cara dari Bina Marga



Cara Modern

Survey Harga Satuan Pekerjaan Dalam penentuan harga satuan pekerjaan baik harga satuan untuk material maupun harga satuan upah tenaga kerja untuk analisa Rencana Anggaran Biaya (RAB), diperoleh dari •

Daftar harga yang dikeluarkan Pemda setempat



Daftar harga yang dikeluarkan Instansi tertentu



Jurnal-jurnal harga bahan dan upah



Bapenas



Survei harga di lokasi proyek

Analisa Harga Satuan Pekerjaan Perhitungan Harga Satuan Pekerjaan digunakan untuk menyusun Rencana Anggaran Biaya Proyek. Dalam penyusunan Rencana Anggaran Belanja (RAB) selain analisa Harga Satuan Pekerjaan yang diperlukan data volume pekerjaan yang diambil dari gambar rencana, yang didalamnya terdapat kebutuhan tenaga kerja dan bahan tiap satuan pekerjaan.

Untuk membuat analisa harga bahan bisa dilakukan dengan : 1)

Perhitungan

2)

Buku analisa misal : •

BOW



SNI



Dan buku analisa lain

18

Berikut rencana biaya proyek private house Makassar :

19

20

21

22

BAB V 23

PENGENDALIAN PROYEK Konsep dasar nilai hasil dapat digunakan untuk menganalisa kinerja dan membuat prakiraan pencapaian sasaran. Untuk itu dipakai tiga indikator yaitu : 1. BCWS (Budgeted Cost of Work Scheduled). Indikator ini sama dengan anggaran untuk suatu paket pekerjaan, tetapi disusun dan dikaitkan dengan jadwal pelaksanaan. Jadi disini terjadi perpaduan antara biaya, jadwal dan lingkup kerja, di mana pada setiap elemen pekerjaan telah diberi alokasi biaya dan jadwal yang dapat menjadi tolak ukur dalam pelaksanaan pekerjaan. 2. BCWP (Budgeted Cost of Work Performed) Indikator ini menunjukkan nilai hasil dari sudut pandang nilai pekerjaan yang telah diselesaikan terhadap anggaran yang disediakan untuk melaksanakan pekerjaan tersebut. Bila angka ACWP dibandingkan dengan BCWP, akan terlihat perbandingan biaya yang telah dikeluarkan untuk pekerjaan yang telah terlaksana terhadap biaya yang seharusnya dikeluarkan untuk maksud tersebut. 3. ACWP (Actual Cost of Work Performed). Adalah jumlah biaya aktual dari pekerjaan yang dilaksanakan. Biaya ini diperoleh dari data-data akuntansi atau keuangan proyek pada tanggal pelaporan (misalnya pada akhir bulan), yaitu catatan pengeluaran biaya aktual dari paket kerja atau kode akuntansi termasuk perhitungan Overhead dan lain-lain. Jadi, ACWP merupakan jumlah aktual dari pengeluaran atau dana yang digunakan dalam pekrjaan pada jangka waktu tertentu.

5.1

Rincian Penyimpangan Jadwal dan Biaya • Cost Variance (CV) Cost variance merupakan selisih antara nilai yang diperoleh setelah menyelesaikan paket pekerjaan dengan biaya aktual yang terjadi selama pelaksanaan proyek. Cost variance positif menunjukkan bahwa nilai paket-paket pekerjaan yang diperoleh lebih besar dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan untuk mengerjakan paket-paket pekerjaan tersebut. sebaliknya nilai negatif menunjukkan bahwa nilai paket-paket pekerjaan yang diselesaikan lebih rendah dibandingkan dengan biaya yang sudah dikeluarkan. CV = BCWP - ACWP

• Schedule Variance (SV) Schedule variance digunakan untuk menghitung penyimpangan antara BCWS dengan BCWP. Nilai positif menunjukkan bahwa paket-paket pekerjaan proyek yang terlaksana lebih banyak dibanding rencana.

24

Sebaliknya nilai negatif menunjukkan kinerja pekerjaan yang buruk karena paket paket pekerjaan yang terlaksana lebih sedikit dari jadwal yang direncanakan. CV = BCWP - BCWS

Tabel 5.1 Kontrol Waktu Pelaksanaan

Deviasi Memiliki pengertian yaitu penyimpangan pekerjaan yang sudah dilaksanakan terhadap rencana awal proyek. Dari tabel 5.1 nilai deviasi dimaksudkan adalah sebagai berikut : • (-) artinya penyimpangan pada pekerjaan yang mengalami keterlambatan terhadap rencana awal proyek. • (+) artinya penyimpangan pada pekerjaan yang mengalami kemajuan terhadap rencana awal proyek. • Terllihat pada tabel 5.1 deviasi mengalami kemajuan karna bernilai positif (+)

Tabel. 5.2 Krontrol Biaya

25

Tabel 5.3 Nilai Hasil ( Earned Value)

Nilai Hasil = (% penyelesaian) x (anggaran) Contoh perhitungan: Bulan 1

= 3,95 x 962,278,593,03 = 38,010,004.42

Bulan 2

= 7,50 x 962,278,593,03 = 72,170,894.48

Tabel 5.4 Rincian Penyimpangna Biaya dan Waktu

Contoh Perhitungan: • BCWS (Budgeted Cost of Work Scheduled) Bulan 1

= 45,372,964.48 / 1.00.000.000 = 0,45

Bulan 2

= 112,987,296.99/ 1.000.000.000 26

= 1,13

• BCWP (Budgeted Cost of Work Performed) Bulan 1

= 38,010,004.42 / 1.00.000.000 = 0,38

Bulan 2

= 72,170,894.48 / 1.000.000.000 = 0,72

• ACWP (Budgeted Cost of Work Performed) Bulan 1

= 30,408,003.54 / 1.00.000.000 = 0,3

Bulan 2

= 57,736,715,58 / 1.000.000.000 = 0.58

• CV (Cost Variance) Bulan 1

= BCWP - ACWP = 0,38 - 0,3 = 0,0,8

Bulan 2

= 0,72 - 0,58 = 0,14

• SV (Schedule Variance) SV

= BCWP – BCWS

Bulan 1

= 0,38 – 0,45 = -0,07

Bulan 2

= 0,72 - 1,13 = -0,41

27

5.2

Indeks Kinerja dan Biaya • Cost Performance Index (CPI) Faktor efisiensi biaya yang telah dikeluarkan dapat diperlihatkan dengan membandingkan nilai pekerjaan yang secara fisik telah diselesaikan (BCWP) dengan biaya yang telah dikeluarkan dalam periode yang sama (ACWP). CPI = BCWP/ACWP

• Schedule Performance Index (SPI) Faktor efisiensi kinerja dalam menyelesaikan pekerjaan dapat diperlihatkan oleh perbandingan antara nilai pekerjaan yang secara fisik telah diselesaikan (BCWP) dengan rencana pengeluaran biaya yang dikeluarkan berdasar rencana pekerjaan (BCWS). ‘' SPI = BCWP/BCWS Tabel 5. Indeks Kinerja dan Biaya

28

Contoh Perhitungan: • CPI ( Cost Perform Index ) Bulan 1

= 0,38 / 0,30 = 1,25

Bulan 2

= 0,72 / 0,58 = 1,24

• SPI (Schedule Performance Index ) Bulan 1

= 0,38 / 0,45 = 0,84

Bulan 2

= 0,72 / 1,13 = 0,64

5.3

Peramalan Biaya akhir Prediksi Biaya Penyelesaian Akhir Proyek/ Estimate at Completion (EAC) Pentingnya menghitung CPI dan SPI adalah untuk memprediksi secara statistik biaya yang dibutuhkan untuk menyelesaikan proyek. Ada banyak metode dalam memprediksi biaya penyelesaian proyek (EAC). Namun perhitungan EAC dengan SPI dan CPI lebih mudah dan cepat penggunaannya. Ada beberapa rumus perhitungan EAC, salah satunya adalah sebagai berikut: EAC = ACWP + (BAC-BCWP) / (CPIxSPI)

Perhitungan EAC merupakan penjumlahan biaya aktual yang sudah dikeluarkan dan sisa biaya yang akan dibutuhkan untuk menyelesaikan proyek. Sisa biaya yang akan dibutuhkan diprediksi secara statistik dengan memperhitungkan 29

efektifitas penggunaan biaya (CPI) dan kinerja pekerjaan terhadap rencana (SPI). Dari nilai EAC dapat diperoleh perkiraan selisih antara biaya rencana penyelesaian proyek (BAC) dengan biaya penyelesaian proyek berdasarkan kinerja pekerjaan yang telah dicapai (EAC) atau yang disebut variance at completion (VAC) VAC = BAC -EAC

Indikator CPI dan SPI lebih sering digunakan untuk penilaian kinerja proyek dibanding SV dan CV. Nilai CPI dan SPI merupakan bobot nilai yang tidak memiliki dimensi sehingga dapat dilakukan perbandingan antara kinerja proyek satu dengan lainnya. Selain itu nilai SPI dan CPI memberikan perbandingan relatif terhadap BCWS atau Performance Measurement Baseline (PMB) yang menjadi dasar penilaian status proyek dari segi biaya dan waktu.

Keterangan : 1. Untuk Varian biaya (CV) a. Tanda negatif (-) menunjukkan situasi dimana biaya yang diperoleh lebih tinggi dari anggaran (Cost overrun). b. Angka nol (0), menunjukkan pekerjaan terlaksana sesuai rencana. c. Tanda positif (+), berarti pekerjaan terlaksana dengan biaya kurang dari anggaran (Cost underrun). 2. Untuk uraian jadwal (SV) a. Tanda negatif (-), berarti jadwal terlambat dari rencana. b. Angka nol (0), menunjukkan jadwal sesuai rencana. c. Tanda positif (+), berarti jadwal lebih cepat dari rencana.

Gambar 5.1 Performance Measure Tabel 5.6 Peramalan Harga Terakhir 30

Perhitungan : ⚫

ETC

= =

𝑃𝑙𝑎𝑛𝑛𝑒𝑑 𝐶𝑜𝑠𝑡 𝐾𝑜𝑚𝑢𝑙𝑎𝑡𝑖𝑓 𝐵𝐶𝑊𝑃 1,00,000,00

-

𝐶𝑃𝐼

962,278,593.03 0,38 1,00,000,00

-

0,59

= 0,0016 ⚫

EAC

= ACWP + ETC = 4,54 + 0,0016 = 4,54



Sisa Waktu

= 224 hari - 140 hari = 84 hari



ETS

= SPI + Sisa waktu = 0,89 + 84 = 84.89



EAS

= Hari terakhir ke -5 +6 = 224,89 = 224.89

Dari perhitungan di atas, dapat diprediksikan biaya akhir serta waktu pengerjaan akhir setelah pelaporan bulan ke-5 (hari ke-140) yaitu dari segi waktu proyek ini akan mengalami keterlambatan selama 1 hari dari jadwal rencana awal yang semula selama 224 hari menjadi 224,89 hari. Sedangkan dari segi biaya, proyek ini diperkirakan akan mengalami surflus sebesar Rp. 454,281,6121, dari yang semula sebesar Rp.962,278,593,00 menjadi Rp. 507,996,981,

31

Gambar 5.2 Kurva-S Pelaporan ke -140

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

2.2

Kesimpulan Berdasarkan analisa dan pembahasan yang telah dilakukan terhadap objek studi proyek pembangunan Private House, Depok dapat disimpulkan bahwa: Pada perhitungan konsep nilai hasil (Earned value concept) diperoleh nilai SV yaitu -0,71 nilai (-) menunjukkan bahwa pekerjaan berjalan lebih lambat dari jadwal yang telah direncanakan sedangkan nilai CV = 1,14 nilai (+) menunjukan pekerjaan memakan biaya yang lebih kecil dari anggaran yang disediakan atau direncanakan. dengan menghitung biaya prakiraan untuk 32

pekerjaan yang tersisa (ETC) dan prakiraan total biaya proyek (EAC) didapatkan nilai EAC sebesar Rp 454,281,612.00 sedangkan nilai RAB adalah sebesar Rp 962,278,593,00 hal ini berarti pada akhir proyek akan mendapat laba sebesar Rp. 507,996,981.

1. Dari analisa kinerja waktu yang dilakukan atau digunakanpada pelaksanaan proyek Private House dengan menggunakan metode konsep nilai hasil, waktu yang dilakukan sudah cukup tepat waktu dari perncanaan hanya telat dalam waktu 1 hari.

2. Kinerja biaya pada pelaksanaan proyek Private House dengan menggunakan metode konsep nilai hasil diperoleh terjadinya pemyempitan biaya. Dalam hal ini pembengkakan biaya yang dimaksud adalah anggaran yang digunakan tiap bulan lebih kecil dari anggaran yang direncanakan tiap minggunya.dikarenakan pekerjaan yang dilakukan juga lebih lambat sehingga terlihat di bulan ke-1 hingga minggu ke-5 telah memakan anggaran lebih kecil dari yang tersedia.

6.2

Saran Dalam perencanaan anggaran biaya maupun penjadwalan pada proyek hendaknya juga dilengkapi analisa produktivitas dan variable yang mempengaruhi pelaksanaan proyek, misalnya kondisi cuaca, naik turunnya harga bahan/material, keterbatasan sumber 30 daya dan lain-lain agar dapat meminimalkan terjadinya pembengkakan atau bahkan tidak akan terjaadi pembengkakan biaya ataupun keterlambatan waktu pelaksanaan proyek. Dalam pengambilan data untuk ACWP hendaknya dipergunakan data yang lebih sesuai. ACWP adalah jumlah biaya aktual dari pekerjaan yang telah dilaksanakan. Biaya ini diperoleh dari data-data akuntansi atau keuangan proyek pada tanggal pelaporan (misalnya akhirbulan), yaitu catatan segala pengeluaran biaya actual dari paket kerja atau kode akuntansi termasuk perhitungan overhead dan lain-lain.

DAFTAR PUSTAKA

33

Suwandari, Yunita Dian. 2021. MODUL PERKULIAHAN 4 Critical Path Method. Jakarta:Pusat Bahan Ajar dan eLearning Universitas Mercu Buana. Suwandari, Yunita Dian. 2021. MODUL PERKULIAHAN 5 Bar Chart. Jakarta:Pusat Bahan Ajar dan eLearning Universitas Mercu Buana. http://repository.um-palembang.ac.id/id/eprint/549/1/SKRIPSI386-1704273837.pdf https://unidar.e-journal.id/jadv/article/download/58/47 http://furuhitho.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/57608/STAKEHOLDER+PROY EK.pdf https://www.situstekniksipil.com/2017/11/pengertian-pemilik-proyek-atau-owner.html https://www.gurusipil.com/pelaksana-contractor/ https://www.adhyaksapersada.co.id/mandor/ http://jagobangunan.com/article/read/berbagai-peran-pekerjaan-bangunan https://www.dosenpendidikan.co.id/supplier-adalah/ https://wira.co.id/struktur-organisasi-proyek/ https://id.m.wikipedia.org/wiki/Work_breakdown_structure http://wsilfi.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/44735/PPSI-AS-2.pdf http://eprints.dinus.ac.id/14575/1/[Materi]_Manajemen_Sains__Project_Network_Planning.pdf https://ilmumanajemenindustri.com/pengertian-gantt-chart-cara-membuat-gantt-chart/

34

Similar documents

BAB I,II,III,IV ,V dan VI-converted

Zikhan Bojic - 1.4 MB

BAB III (Preliminary Desain)

VR Risdianto - 1.2 MB

BAB III - DINAMIKA PARTIKEL

Lazuardo Rizqi - 258.6 KB

Materi 3 Dan 4 Flare

Deby Andika Dion H - 94.4 KB

Planificare Cls V

Ionut - 140.6 KB

Preparat Bab 9

Khoirul Anam - 784.4 KB

BAB III-converted

Fariz Hilman - 429.3 KB

OConnor v Oakhurst Dairy.rtf

Irma Ayu Andari - 276.2 KB

5. BAB II-converted

aziz mursal - 257.1 KB

BAB III COC

Al Ghiffari Muhammad Rayhan - 257.1 KB

BAB 4 JURNAL

Hafidz Setyo - 134.6 KB

© 2024 VDOCS.RO. Our members: VDOCS.TIPS [GLOBAL] | VDOCS.CZ [CZ] | VDOCS.MX [ES] | VDOCS.PL [PL] | VDOCS.RO [RO]